Jumat, 03 Juni 2011

MINIMNYA PEMBERIAN ASI


MINIMNYA PEMBERIAN ASI, Masyarakat Terbuai Rayuan Iklan Susu Formula

Mataram (Suara NTB) – Gubernur NTB TGH. M. Zainul Majdi, MA, tidak menampik, minimnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi yang baru lahir disebabkan belum optimalnya perhatian tenaga kesehatan. Di mana, tenaga kesehatan setelah menangani wanita yang baru melahirkan menganjurkan memberikan susu formula dengan merek tertentu, jika bayi sulit menyusui.
“Kita sudah cukup lama terbuai, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia dengan iklan-iklan susu formula yang berasal dari susu sapi. Logikanya, susu sapi untuk anak sapi. Susu manusia untuk anak manusia, susu kambing untuk anak kambing,” ungkapnya saat memberikan sambutan pada pembukaan Kampanye Pekan ASI Sedunia di Graha Bhakti Praja Kantor Gubernur NTB, Selasa (28/9) kemarin.
Acara ini juga dirangkaikan dengan penyematan tanda Duta ASI NTB oleh Gubernur NTB pada Ketua Tim Penggerak PKK NTB Hj. Rabiatul Adawiyah Zainul Majdi, SE.
Gubernur menegaskan, ASI lebih penting dari susu formula, terutama bagi perkembangan dan pertumbuhan bayi. Untuk itu, pemberian ASI pada bayi yang baru dilahirkan hingga berusia 2 tahun harus tetap dilakukan.
Pemberian ASI selama 2 tahun pada bayi, lanjutnya, telah diperintahkan Allah SWT yang disebut secara eksplisit dalam Al Quran selama 30 bulan. Perintah ini bukan tanpa sebab, karena manfaat ASI yang cukup besar bagi pertumbuhan bayi.
Begitu juga pimpinan rumah sakit, rumah sakit bersalin, puskesmas yang ada di daerah ini, harapnya, bisa mengkampanyekan pemberian ASI pada bayi yang baru dilahirkan harus tetap dilakukan. Harapannya, ketika semua ibu melahirkan memberikan ASI pada bayinya, khususnya saat baru melahirkan, maka kematian bayi di NTB bisa ditekan.
Hal senada juga disampaikan dr. Utami Roesli, Sp.A, IBCLC, FABM, dari Sentra Laktasi Pusat. Menurutnya, pemberian ASI harus segera dilakukan, begitu bayi tersebut baru dilahirkan. Di mana, katanya, bayi tersebut diletakkan di dada ibunya dan dibiarkan mencari sendiri puting ibunya untuk menyusui. Minimal, ujar dokter spesialis senior dari Rumah Sakit Saint Carolus Jakarta ini, bayi diletakkan 1 jam di dada ibunya.
Jika ini dilakukan, katanya, paling tidak persoalan tingginya angka kematian bayi di NTB yang menjadi persoalan pemerintah daerah akan mampu diatasi. Apalagi, ASI memiliki zat tersendiri bagi ketahanan tubuh si bayi.
“Yang paling bagus. ASI itu adalah untuk anak sendiri. Bukan untuk anak kakaknya atau anak orang lain. Dan menyusui eksklusif selama 6 bulan harus dilakukan, sehingga angka kematian bayi bisa diminimalisir,” ujar cucu sastrawan Marah Roesli ini.
Sementara dari Forum Peduli ASI NTB, saat ini, jumlah kematian bayi mencapai 72 kematian dengan usia 0-11 bulan per 1.000 kelahiran hidup dalam setahun. Jika dirata-ratakan, dalam sehari, jumlah kematian sebanyak 18 bayi. Suatu angka yang memprihatinkan.
Data empiris menunjukkan, 2/3 kematian bayi terjadi pada 1 bulan pertama (masa neonatal), dan 2/3 kematian neonatal terjadi pada 1 minggu pertama. Semua itu ditentukan dengan apa yang terjadi pada 1 jam pertama. Tidak dipungkiri, 1 jam pertama, seorang bayi mempunyai “hak” sering terabaikan, yakni mendapatkan ASI yang pertama.

referensi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar